Kamis, 11 November 2010

For the essential theme of the whole Bible from beginning to end is that God’s historical purpose is to call out a people for Himself, that this people is holy people, set apart from the world to belong to Him and to obey Him, and that its vocation is to be true to its identity, that is, to be holy or different in all its outlook and behavior.


-J.Stott-

Selasa, 14 September 2010

I Can See Many Blessings Through My Familiy

Liburan sekitar sebulan sambil menunggu internship saya habiskan di rumah. Hmm.. kalau dipikir-pikir ya memang lebih bebas dan berkembang di kos. Di kos saya bebas melakukan apapun yang saya suka, mudah untuk pergi ke kampus mencari info, punya teman-teman yang easy going, tidak perlu berantem ataupun adu pendapat dengan adik ataupun orang tua saya, terlebih di kampus saya merasa nyaman dengan persekutuan yang membuat saya berkembang dan membantu pertumbuhan rohani saya.

Namun, saya merasa: egois sekali saya! Sudah dapat banyak tentang keselamatan, sudah mengalami pertumbuhan rohani, sudah ikut serta dalam pelayanan kampus, bahkan sudah lulus menjadi dokter, tapi saya tidak melayani keluarga saya. Akhir-akhir ini saya mendapat teguran dari Tuhan lewat sharing teman-teman saya yang ingin menghabiskan waktu liburan ini bersama keluarganya sebelum pergi ke tempat internship. "ahh, ada baiknya akupun demikian, berada di rumah, lebih dekat dengan keluarga", pikir saya saat itu. Saya ingin memakai waktu liburan sebulan ini untuk lebih dekat dengan keluarga, melayani mereka, dan terlebih saya ingin sekali mereka juga mengalami pertumbuhan rohani dan ikut terlibat dalam pelayanan. ~Hohoho, harapan saya terhadap keluarga yang ideal tinggi sekali ya~

Teringat, dulu ketika saya masih jadi mahasiswa tingkat 1, saya pernah mencoba menanyakan tentang kepastian keselamatan keluarga saya. Maklumlah, waktu itu saya masih euforia membagikan berita tentang keselamatan. Hmm.. saya bersukacita, karena mereka telah mengerti tentang hal tersebut. Sukacita saya bertambah juga ketika adik saya mau dibina dalam kelompok kecil dikampusnya. Namun, saya merasa gagal! Saya membagikan hal tersebut, tetapi kurang membagikan waktu, pikiran, dan tenaga saya untuk mereka. Saya masih egois, saya terlalu sibuk terhadap diri saya sendiri sampai mereka berkata saya terlalu rohani, tidak sesuai apa yang dikatakan dan dikerjakan. Saya mencoba lebih memperhatikan keluarga dengan mengusahakan menelepon atau menghubungi mereka setiap hari (ataupun dihubungi, yang jelas komunikasi tetap ada), mendoakan mereka setiap hari saat saya di kos. Awalnya saya bisa melakukannya, tapi lama kelamaan saya capek dan jenuh, saya merasa ga menikmati lagi apa yang saya lakukan. Rupanya fokus saya yang salah! Saya terfokus pada apa yang saya punya untuk memperhatikan keluarga saya. Lagi-lagi saya kurang menganggap Tuhan lah yang sesungguhnya berperan dalam keluarga saya. Saya mau keluarga saya begini, saya mau begitu, tapi pada akhirnya akan jatuh capek dan kurang mendapat sukacita karena bukan Tuhan yang diandalkan atas segalanya.

Saya mohon ampun sama Tuhan karena saya terlalu PD dengan diri saya sendiri saja dan saya meminta Tuhan untuk kembali duduk di atas takhta hati saya. Saat ini saya terus berdoa agar liburan ini menjadi sarana yang efektif untuk dapat kembali memperhatikan keluarga saya, melayani mereka. Saya berharap ini ga cuma letupan sesaat, tapi keberadaan saya di rumah sungguh-sungguh bisa membawa perubahan.

Liburan ini, saya mulai banyak ngobrol dengan papa dan mama saya. Membicarakan banyak hal. Biasanya saya suka terpancing untuk adu pendapat kalau ngomong sama mereka. Namun saya belajar untuk bisa mengendalikan diri, untuk bisa menerima pendapat orang lain (ga nyolot lah istilahnya, hehe), untuk mau dikritik, dan untuk tidak cepat putus asa. Lama kelamaan saya mengerti banyak dan merasakan berkat yang begitu berlimpah dalam hidup saya. Saya yang bisa sekolah sampai lulus dokter ini adalah berkat dari Tuhan. Dari segi finansial, kalaudipikir-pikir gaji orang tua saya yang cuma guru SMA dan PNS mungkin ga cukup buat membiayai kehidupan saya dan 2 orang adik2 saya, tapi Tuhan ngasih hikmat buat cermat mengatur uang sama mama dan papa saya. Saya jadi merasakan juga perjuangan mereka mendidik saya dan adik-adik saya. Berusaha mencukupkan kebutuhan fisik kami, namun tidak melupakan kebutuhan rohani kami. Dari saya kecil, mereka rajin mengantarkan dan menjemput saya dan adik-adik saya ke gereja untuk sekolah minggu, latihan-latihan liturgi atau nyanyi. Waktu kecil, setiap malam kami selalu diajarin berdoa. Ada satu doa dalam bahasa batak yang sering diajari:
"met met au on bahen ias rohangkon sasada Ho Jesus donganku tongtong. Amen."
(artinya: kecil aku Tuhan, bersihkanlah hatiku, satu-satunya engkau Yesus, temanku selamanya. Amin)

Saya mengerti bagaimana jatuh bangun mereka akibat perjuangan yang berat sering kali menggeser Tuhan sebagai prioritas yang utama. Tapi di sinilah peranan kami semua sekarang. Saling mengingatkan, membangun, dan menjaga satu sama lain. Untuk itu semua, kami harus membangun kesehatian dahulu satu sama lain.


Selasa, 17 Agustus 2010

Oleh-oleh dari Desa Pengalusan..

Tanggal 3-9 agustus kemarin saya mengikuti stop out di purwekerto, pengalusan tepatnya..
sejujurnya saya siap tidak siap mengikuti stop out kali ini.. beberapa pembinaan stop out yang dilakukan tidak saya ikuti karena hal-hal yang ga bisa ditinggalkan seperti seminar (h min 2 keberangkatan stop out). Saya memohon kpd Tuhan supaya saya bisa tetap menyiapkan diri dengan waktu yang sempit ini. Tuhan pun menjawab doa saya.. buktinya saya benar2 menikmati momen2 di stop out ini dan itulah yang akan saya bagikan..

Saya sampai di desa pengalusan yang terletak di puncak gunung sesuatu di daerah purwekerto. Namanya juga puncak, tempatnya pasti dingin dan jalannya menanjak sekalee.. Di desa ini, hampir semua penduduknya beragama Kristen dan di sana berdiri sebuah gereja (GKJ pengalusan). Penduduk di sana rata-rata bekerja sebagai petani/peladang. Hasil ladang berupa daun kucai (sejenis daun bawang dan dipakai untuk sambal tempe mendoan) yang dijual tidak seberapa kepada tengkulak. Kabar yang beredar rata2 pendapatan mereka 300rb per tahun. Wow, saya lantas berpikir bagaimana mungkin dengan pendapatan demikian mereka bisa hidup dan menghidupi keluarga mereka? Kasih Tuhan pastilah yang tetap memelihara mereka sampai detik ini.

Saya tinggal di rumah pak pendeta Bagus dan ibu Endah serta 1 orang anak mereka Gracia (3 tahun). saya kagum dengan keluarga ini. Di sini saya melihat contoh nyata misionaris yang bertugas di daerah terpencil. Pak bagus ini asalnya tinggal di Solo dan awalnya istrinya tinggal di Jakarta. Mereka sudah 3 tahun menetap dengan sukacita dan bukan tanpa perjuangan di desa terpencil ini. Pak bagus menceritakan bagaimana awalnya mereka bergumul untuk meninggalkan zona nyaman mereka, bagaimana mereka membangun rumah yang mereka tinggali sekarang, bagaimana menyesuaikan diri dengan orang-orang yang berbeda kebiasaan dengan mereka, dan bagaimana mereka juga berjuang supaya bisa melayani dan membawa teladan yang baik untuk masyarakat sekitar. Saya semakin dikuatkan untuk bisa melakukan hal yang sama saat jadi dokter nanti. sebentar lagi saya akan pergi internship selama setahun di tempat yang ga tau dimana. saya berharap bisa menjadi dokter yang menangani pasien secara holistik (hhohoho, IKK sekaleee), ga cuma mengobati fisik pasien, tapi seperti apa yang Tuhan Yesus sudah kerjakan di dunia (teaching, preaching, healing).

hari selanjutnya, dijalani dengan pengobatan.. Hohoho, di sini saya dapet kesempatan untuk ikut serta memeriksa beberapa pasien. Di sini ada berbagai macam tantangannya lagi (hohoho, ga bisa disebutin satu2 dan awalnya bikin saya ciut). Nah di sini saya mulai belajar sama yang namanya peperangan rohani. Benar2 diingetin pentingnya berdoa dan tetap bergantung sama Tuhan dan saya merasakan bagaimana besarnya kuasa doa itu.

Berkat2 lain nya yang saya dapet dari stop out adalah semakin menyadari kalau sebagai orang kristen ga cukup mengalami kasih Tuhan untuk diri sendiri saja, tapi membagikan kasih itu sama orang lain juga. Bagi yang belum pernah mencoba melakukannya, ayo lakukan dari sekarang! bagi yang sudah atau sering, jangan pernah lelah menjadi saluran berkat bagi orang lain, terlebih kepada orang yang belum mengenal Tuhan.

Pengalaman saya dalam membagikan kasih Tuhan itu salah satunya adalah ketika saya memeriksa saudara sebangsa saya, seorang bapak, sebut saja pak X. Pak X, 40 tahun datang dengan keluhan utama benjolan pada lehernya sejak 1 tahun terakhir. Benjolan tersebut ikut bergerak saat menelan dan hasil pemeriksaan mengarah ke keganasan. Saya menyarankan bapak tersebut untuk diperiksa lebih lanjut ke rumah sakit. Ternyata ga semudah yang saya pikirkan. Bapak tersebut ternyata adalah tulang punggung keluarga, bekerja hanya sebagai peladang, pendapatan tak menentu, anaknya banyak dan masih kecil-kecil, kalo harus memeriksakan diri ke kota berarti harus meninggalkan keluarga. Bapak tersebut seakan kehilangan harapan untuk sembuh. Saya bilang ke bapak itu kalo harapan sesungguhnya masih ada dalam Tuhan. Bapak tersebut lantas saya doakan tak lupa disarankan untuk mengurus jaminan kesehatan berupa jamkesmas atau gakin.

Kedengerannya berat bgt dehh.. harus menyampaikan kabar sukacita, harus meninggallkan zona nyaman, harus jadi berkat, tapi itu tantangannya! Ini bukan pekerjaan kita sendiri. "Dengan diri kami sendiri kami tidak sanggup untuk memperhitungkan sesuatu seolah-olah pekerjaan kami sendiri; tidak, kesanggupan kami adalah pekerjaan Allah. (2 Kor 3:5)". Mari menjadi dokter-dokter yang bisa mengerjakan kerinduanNya bagi semua manusia sambil tetap memperlengkapi diri dengan menjaga integritas di hadapan Tuhan..
soli deo Gloria!



Sabtu, 10 Juli 2010

stop calling me 'dek koas' :p

Jumat kemarin ujian gw di bagian yang terakhir (IKK), yeayyy!!
it means unofficially i'm not a co ass anymore (but not a doctor yet!).
bener kata temen gw kalo sekarang status ga jelas, karena belum bisa praktek apa2 juga (iya toh, kan belum angkat sumpah, belum lulus Ujian Kompetensi Dokter aka UKDI). bingung juga ngisi kesibukan apa setelah UKDI ntar. mau magang tapi rata2 tempat yang gw pengen udah keisi, mau jalan2 tapi sendirian ga seru juga (hoho, lagian bosen dan ga produktif juga ya jalan2 tiap hari selama kurang lebih 5 bulan)..

saat2 kayak gini jadi teringat masa2 kuliah.. masa2 ketika diterima jadi maba 2005. huee, awalnya sempet kecewa sih karena ada beberapa teman baik gw ternyata ga sekampus sama gw (yeeyy, tapi tetep bisa kontek2an juga akhirnya). pas kuliah tingkat 1, masih enak gitulah jadwalnya, masih bisa ngerjain ltm2, tugas mpkt jaman dulu, masih bisa pulang pergi salemba depok tiap hari, masih bisa ikut PJ (ini juga jarang2 sih, habis selesainya sore bgt padahal rumah gw nun jauh di sana), masih bisa ikutan POTI, hehe..

gw bersyukur kalo bisa lebih mengenal Tuhan dan melayani di kampus ini.. seneng bgt dapet anugerah untuk merasakan kasih Tuhan lewat apa yang gw dapet dan berbagi kasih tersebut dengan orang lain. Ada orang2 yang mau mendukung, menegur, menguatkan dalam menjalani 5 tahun pendidikan di FKUI (makasiii ya POTI, PO, lucky seven, kelompok ipd, anak, obgyn, ikk).

kesempatan ini ga akan pernah datang lagi! semakin hari semakin belajar untuk memanfaatkan kairos yang udah dikasih dengan lebih baik lagi..














kelompok 11 cihuyy (tingkat 3)




lucky seven (tingkat 4)
















habis wanna be..















poti 2005
















team building pengurus pofkui^^

Rabu, 07 April 2010

FEARFULLY AND WONDERFULLY MADE

Bahkan tanpa bukti lain sama sekali, ibu jari saja sudah cukup untuk meyakinkan saya akan keberadaan Tuhan.
--Isaac Newton

Manusia mencari-cari -hutan belantara Amazon, air terjun Niagara, sungai Nil- semua keajaiban alam yang dapat memuaskannya akan keagungan dan kebesaran Allah. Namun Isaac Newton mendapatkannya tanpa melangkah satu meter pun. Manusia. Manusia merupakan keajaiban Allah kita yang luar biasa. Gerakan ibu jari saja sudah cukup untuk membuktikan bahwa kehebatanNya. Begitu rumit gerakan itu diciptakanNya agar manusia dapat menciptakan keindahan –menekan tuts piano, memegang pulpen untuk menulis sebuah puisi, melukis- agar manusia tersebut dapat merasakan kebesaranNya yang lain.

Ibu jari hanyalah bagian kecil dari tubuh manusia yang merupakan gudang rahasia dengan pesona yang tiada habisnya. Dan hal inilah yang dibahas oleh dr. Paul Brand dan Philip Yancey dalam buku Diciptakan dengan Dahsyat dan Ajaib (terjemahan bahasa Indonesia dari Fearfully and Wonderfully Made). Mereka dapat mengupas dengan baik pernyataan-pernyataan abadi Tuhan dalam ciptaanNya, tubuh manusia. Tidak hanya itu, mereka juga mengungkap pemahaman yang menarik mengenai Tubuh Kristus dengan membandingkannya dengan tubuh manusia.

Diawali dengan bagian Sel, dr Paul Brand dan Philip Yancey membahas mengenai kerja Tuhan yang tak terbayangkan, menciptakan sel-sel tubuh manusia yang khas. Manusia pada awalnya hanya merupakan satu sel –zigot- yang akhirnya membelah terus-menerus dan berdiferensiasi untuk mencapai karakter akhir sel-sel yang unik. Sel-sel tersebut mempunyai kerjanya masing-masing dan mempunyai satu tujuan: menunjang kelangsungan hidup sang manusia. Setiap sel berbeda. Sel saraf dengan bentuk bercabang dan panjang mempunyai kecanggihan bagai kabel yang dapat menyalurkan pesan dari satu bagian tubuh ke yang lain. Sel otot yang mempunyai kemampuan berkontraksi, membantu jari-jari saya untuk mengetik dan mata saya untuk berkedip. Fibrosit yang terlihat sederhana namun mempunyai peranan untuk mengisi setiap kekosongan.

Tubuh memiliki keragaman sel yang menakjubkan. Kelihatannya mereka bekerja sendiri-sendiri namun apa yang membuat mereka dapat hidup berdampingan dalam satu tubuh manusia dan menunjang kehidupannya? Jawabannya adalah identitas. Setiap sel mempunyai identitas yang sama yaitu kromosom yang tersimpan dengan baik dalam inti setiap sel. Kromosom mengandung DNA yang mengandung gen yang mengkode sifat-sifat manusia -kulit putih atau hitam, mata sipit atau besar, rambut keriting atau lurus- membuat manusia yang satu berbeda dengan yang lain.

Tubuh Kristus, seperti tubuh kita, terdiri dari sel-sel individual yang saling berbeda dan terjalin menjadi satu untuk membentuk satu Tubuh. Perbedaan antara individu sengaja diciptakanNya untuk saling mendukung satu sama lain. Sama seperti setiap sel sama berharganya bagi manusia, begitu juga setiap anggota Tubuh Kristus sama berharganya bagi Kristus. Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Korintus yang pertama berpendapat ”Allah telah menyusun bentuk tubuh kira begitu rupa sehingga kepada anggota-anggota yang tidak mulia diberikan penghormatan khusus, supaya jangan terjadi perpecahan dalam tubuh, tetapi supaya anggota-anggota yang berbeda itu saling memperhatikan. Karena itu jika satu anggota menderita semua anggota turut menderita; jika satu anggota dihormati, semua anggota turut bersukacita.”

Jelas bahwa Kristus memilih setiap anggota untuk memberi sumbangan yang unik bagi TubuhNya. Tak ada gunanya meremehkan anggota lain, karena bila ia tidak bekerja, seluruh TubuhNya menderita. Kristus menginginkan setiap anggota yang memiliki identitas yang sama –DNA Kristus- bergandeng tangan, bekerja sama untuk kemuliaan Allah. Tubuh Kristus berbeda dengan dunia, karena gennya merupakan gen terbaik, ”mengkodekan” sifat-sifatNya.

Pada bagian lain buku ini, dibahas pula mengenai kulit. Bagian terluas dari tubuh manusia ini terlihat sangat sederhana: hamparan berwarna membungkus tubuh manusia. Sadarkah kita bahwa kulitlah yang membuat kita dapat mengenali seseorang? Kulitlah yang membuat kita mengagumi ketampanan atau kecantikan seseorang. Kulitlah yang yang mempermudah agen-agen penyelidikan mengenali seorang penjahat-melalui sidik jarinya. Kulit merupakan tanda pengenal tubuh yang kasat mata. Yang dapat menentukan first impression (woy bingung nih, boleh pake bahasa beginian ga???!)seseorang.

Pertanyaaan selanjutnya, apakah kita sudah menjadi Kulit yang baik bagi Tubuh Kristus? Setelah mempunyai identitas DNA-Nya, apakah orang mengenali kita sebagai TubuhNya? Saat dunia bertemu dengan Tubuh Kristus bagaimanakah pendapat mereka? Apakah mereka melihat ”kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemah-lembutan, dan penguasaan diri” (Galatia 5:22)? Ataukah hanya segala sifat lama kita yang masih mereka temukan? Hidup bagi Kristus adalah hidup yang merefleksikan Dia. Kristus telah turun ke dunia memberi teladan hidup yang harusnya Tubuh Kristus lakukan. Bercerminlah dengan cermin rohani agar kita dapat mengenali diri kita sendiri, dan percantiklah diri dengan Firman Tuhan agar dapat berkenan menjadi KulitNya.

Hal-hal tersebut merupakan sebagian kecil yang diungkap dalam buku ini. Semuanya menarik dan mencengangkan, patut untuk direnungkan oleh setiap orang.

Senin, 05 April 2010

Take me in! -- Pemikiran tentang Anugerah Tuhan yang Besar

Hampir semua orang mengenal patung Liberty. Patung yang berdiri menjulang tinggi yang ada di Amerika Serikat. Patung ini bukanlah sembarang patung yang hanya dijadikan pajangan saja. Patung Liberty memiliki arti tersendiri bagi warga Amerika Serikat. Bagi mereka, patung ini merupakan simbol kemerdekaan, tanda bahwa mereka telah bebas dari segala penjajahan.

Pada alas patung Liberty ada sebuah kalimat yang dicetuskan oleh Emma Lazarus yang sangat menyentuh, bunyinya seperti ini: “Datanglah kepadaku hai orang-orang yang letih dan miskin, rakyat merindukan udara kebebasan dari orang-orang yang terbuang dari masyarakat. Kirimlah kepadaku para tunawisma dan orang-orang terlantar; Aku telah meninggalkan oborku di sisi gerbang emas!”

Kata-kata yang tertulis di benda tak bernyawa tersebut begitu bersejarah sehingga generasi demi generasi di bangsa itu tidak pernah melupakannya. Namun ada satu monumen lain yang begitu menjulang tinggi dan menawarkan kemerdekaan rohani bagi orang-orang yang diperbudak dan dibelenggu oleh dosa. Apakah itu? Monumen itu bernama salib Yesus.

Salib tersebut awalnya hanyalah sebuah benda yang tidak dianggap oleh siapapun karena merupakan simbol dari kehinaan. Namun, ketika pribadi yang disebut Yesus, Anak Allah berada di salib untuk menebus dosa manusia; benda yang malambangkan kebinasaan itu berubah makna menjadi lambang kemenangan atas maut. Dari salib itu terdengar seruan: “Ya Bapa ampunilah mereka” dan “Sudah selesai” (Yohanes 19:30). Keselamatan dan kemerdekaan atas dosa menjadi milik kita ketika kita menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat.

Kematian Yesus telah mengubah masa depan hidup manusia yang tadinya berakhir dalam kebinasaan menjadi kehidupan kekal bersama dengan Allah. Lantas mengapa Allah sampai merencanakan anak-Nya untuk berada di salib yang hina tersebut?

Pada mulanya Allah menciptakan manusia sedemikian rupa untuk suatu rencana indah. Allah begitu mengasihi manusia dan ingin agar manusia memiliki damai dan kehidupan kekal. Namun apa sebab banyak orang masih sulit menemukan kebahagiaan hidup?

DOSA! Semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah. (Roma 3:23). Dosa mengakibatkan maut yang berarti keterpisahan dengan Allah (Roma 6:23). Hal ini merupakan akibat dari pilihan manusia yang tidak taat terhadap Allah. Bagi kita “dosa” adalah perkataan, kegiatan, atau sikap hati yang bertentangan dengan sifat Allah. Tetapi menurut Paulus, istilah “dosa” tidak hanya menunjuk pada kegiatan-kegiatan tertentu. Dalam Roma 6:1-14, “dosa” adalah suatu kuasa, sejajar dengan kuasa maut.

Aneka jenis jalan dan usaha ditempuh manusia untuk menghindari maut tersebut. Berbagai cara melalui moral, agama, kebaikan, filsafat dilakukan tanpa sedikitpun hasil. Amsal 14:12 mengatakan “Ada jalan yang disangka lurus, tetapi ujungnya menuju maut.” Berbagai seruan manusia (take me in) kepada sang Pencipta sia-sia. Allah tidaklah mendengarnya karena masih ada dosa (Yesaya 59:2).

Allahlah yang mencari manusia! “Dimanakah engkau?” Allah bertanya (Kejadian 3:9). Allah memulai pencarian-Nya untuk menebus hati manusia. Sebuah pencarian untuk mengikuti anak-anak-Nya sampai anak-anak-Nya mengikuti-Nya. Allah benar-benar menginginkan anak-anak-Nya pulang bersama-Nya. Dan untuk itu, Ia memberi manusia sebuah hadiah.

Allah menjadi manusia, itulah hadiah bagi semua orang. Keilahian datang. Surga terbuka dan menempatkan miliknya yang paling berharga dalam rahim seorang wanita. Yang Mahakuasa, dalam sekejap, menjadi darah dan daging. Dia yang lebih besar dari alam semesta menjadi embrio yang sangat kecil. Dan Dia yang menopang dunia dengan satu kata memilih bergantung pada makanan seorang gadis muda.

Allah memilih untuk menyatakan diri-Nya melalui tubuh seorang manusia. Yesus Kristus nama-Nya! Lidah yang membangkitkan orang mati adalah lidah seorang manusia. Tangan yang menyentuh orang kusta memiliki kotoran di balik kuku-kukunya. Kaki yang diatasnya seorang wanita menangis adalah kaki yang kapalan dan berdebu. Ia tahu bahwa kaki yang akan melangkah keluar dari bayangan kedamaian toko kayu Yusuf tidak akan beristirahat sampai kaki-kaki itu ditusuk dan dipakukan ke sebuah kayu salib Roma. Hati-Nya mendengar jeritan tak berdaya kaum papa, tuduhan-tuduhan yang pahit dari manusia yang terabaikan, keputusasaan yang selalu membayangi mereka yang berusaha menyelamatkan diri mereka sendiri.

Keilahian-Nya melihat wajah-wajah. Wajah-wajah yang berkerut. Wajah-wajah yang menangis. Wajah-wajah yang tersembunyi di balik tirai. Wajah-wajah yang terhalang rasa takut. Wajah yang bersungguh-sungguh mencari. Wajah-wajah kosong yang menyiratkan kebosanan. Mulai dari wajah Adam sampai wajah bayi yang lahir dari suatu tempat di dunia ini pada saat tulisan ini sedang dibaca. Dia melihat mereka semua.

Kristus datang ke dunia untuk satu alasan: memberikan hidupnya sebagai tebusan untuk manusia. Ia mengorbankan diri-Nya untuk memberi manusia kesempatan kedua. Ia naik ke atas kayu salib dimana keputusasaan manusia yang tertinggi bertemu dengan anugerah Allah yang tidak terbelokkan oleh apapun. Ia menjadi satu-satunya jawaban bagi masalah terbesar manusia yakni keselamatan. Dia mati di salib dan bangkit dari kubur, membayar hukuman atas dosa-dosa kita dan menjembatani jurang pemisah antara Allah dan manusia (1 Timotius 2:5; 1 Petrus 3:18).

Kuburan yang kosong adalah salah satu bukti bahwa Kristus telah bangkit. Kuasa maut tidak berdaya untuk membelenggunya. Hal ini mempertegas bahwa Yesuslah Tuhan yang sungguh berkuasa atas segala sesuatu baik atas maut sekalipun. (1 Korintus 15:1-7)

***

Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman lagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus (Roma 8:1)

Sebab Aku akan menaruh belas kasihan terhadap kesalahan mereka dan tidak lagi mengingat dosa-dosa mereka. (Ibrani 8:12)

Bagi mereka yang hidup dalam Kristus, mempercayai Dia sebagai Tuhan dan juruselamat, janji-janji Tuhan tidak hanya merupakan suatu sumber sukacita. Janji-janji ini juga merupakan dasar-dasar keteguhan hati yang sejati. Manusia mendapat jaminan bahwa dosa-dosanya akan dihapuskan, disembunyikan, dan ditutupi oleh pengorbanan Yesus. Manusia menjadi dekat dengan Allah (Efesus 2:13), dilepaskan dari kuasa kegelapan dan menjadi anggota kerajaan-Nya (Kolose 1:13), dibenarkan (Roma 5:1), disempurnakan (Ibrani 10:14), dan masih banyak lagi semua berkat rohani yang ada. Ini adalah pemberian yang diberikan kepada pendosa yang paling hina di bumi ini. Siapa yang dapat memberikan tawaran seperti ini jika bukan Allah? Karena dari kepenuhan-Nya kita semua telah menerima anugerah demi anugerah. (Yohanes 1:16)

Take Me in! Undang Aku masuk dalam hatimu, begitulah kira-kira seruan Kristus kepada manusia. Mengenal Allah berarti menerima Dia masuk bertahta dalam hati kita. Ia memberikan semuanya dan manusia memberi-Nya semua. Sederhana dan mutlak. Ia jelas dalam apa yang diminta-Nya dan jelas dalam apa yang ditawarkan-Nya. Pilihan terletak di tangan manusia. Tidakkah luar biasa bahwa Allah membiarkan manusia membuat suatu pilihan? Banyak hal dalam kehidupan ini yang tidak dapat dipilih. Manusia tidak dapat memilih cuaca, tidak dapat memilih dilahirkan dengan alis tebal atau hidung besar. Namun manusia dapat memilih dimana akan melewatkan kekekalan. Pilihan penting dan Allah menyerahkannya pada manusia. Jika kita telah mendapatkan-Nya masuk, marilah kita bersyukur kepada-Nya sekali lagi. Dan jika kita belum pernah mendapatkan-Nya, mari undang Dia masuk hati kita. Dapatkanlah anugerah istimewa tersebut sekarang karena ini adalah hadiah seumur hidup

Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” (Yohanes 3:16)