Jumat, 15 Juli 2011

A Date with The Other Woman

this really nice story I read from: http://www.turnbacktogod.com/story-a-date-with-the-other-woman/

Enjoy :)


After 21 years of marriage, I discovered a new way of keeping alive the spark of love. A little while ago I started to go out with another woman. It was really my wife’s idea.

“I know you love her,” she said one day, taking me by surprise.

“But I love YOU!” I protested.

“I know, but you also love her.”

The other woman my wife wanted me to visit was my mother, who has been a widow for 19 years. The demands of my work and my three children had made it possible to visit her only occasionally. That night, I called to invite her to go out for dinner and a movie.

“What’s wrong, are you well,” she asked? My mother is the type of woman who suspects that a late night call or a surprise invitation is a sign of bad news.

“I thought it would be pleasant to pass some time with you,” I responded. “Just the two of us.”

She thought about it for a moment, then said, “I would like that very much.”

That Friday, after work, as I drove over to pick her up I was a bit nervous. When I arrived at her house, I noticed that she, too, seemed to be nervous about our date. She waited in the doorway with her coat on. She had curled her hair and was wearing the dress that she had worn to celebrate her last wedding anniversary. She smiled from a face that was as radiant as an angel’s.

“I told my friends that I was going to go out with my son, and they were impressed,” she said, as she got into the car. “They can’t wait to hear about our meeting.”

We went to a restaurant that, although not elegant, was very nice and cozy. My mother took my arm as if she were the First Lady.

After we sat down, I had to read the menu. Her eyes could only read large print. Halfway through the entree, I lifted my eyes and saw Mom sitting there staring at me. A nostalgic smile was on her lips.

“It was I who used to have to read the menu when you were small,” she said.

“Then it’s time you relaxed and let me return the favor,” I responded.

During the dinner, we had an agreeable conversation – nothing extraordinary – just catching up on recent events of each other’s lives. We talked so much that we missed the movie.

As we arrived at her house later, she said, “I’ll go out with you again, but only if you let me invite you.” I agreed and kissed her good night.

“How was your dinner date?” asked my wife when I got home.

“Very nice. Much nicer than I could have imagined,” I answered.

A few days later, my mother died of a massive heart attack. It happened so suddenly that I didn’t have a chance to do anything for her.

Sometime later, I received an envelope with a copy of a restaurant receipt from the same place mother and I had dined. An attached note said: “I paid this bill in advance. I was almost sure that I couldn’t be there, but, never-the-less, I paid for two plates –one for you and the other for you wife. You will never know what that night meant to me. I love you.”

At that moment, I understood the importance of saying, “I LOVE YOU” in time, and to give our loved ones the time that they deserve. Nothing in life is more important than God and your family. Give them the time they deserve, because these things cannot always be put off to “some other time.”

Selasa, 12 Juli 2011

STRESS!!!!

“Anda akan mematahkan busur bila anda menariknya terus menerus!” –semboyan Yunani-

Terus gimana dong cara mengendurkan senarnya? Aktivitas kian hari terus bertambah, beban studi, kerja, tak jarang pelayanan dan pikiran-pikiran lainnya akan terus ada. Bahkan saat kita berusaha mengurangi kegiatan dan hidup santai, hal-hal lain menuntut kita untuk terus sibuk.

Mari kita melihat cerita Maria dan Marta untuk menemukan suatu contoh sempurna tentang stres. (Lukas 10:38-42)

“Ketika Yesus dan murid-muridNya dalam perjalanan, tibalah Ia di sebuah kampung. Seorang perempuan yang bernama Marta menerima Dia di rumahnya

Perempuan itu mempunyai seorang saudara yang bernama Maria. Maria ini duduk dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan perkataanNya” (ayat 38-39)

Suatu gambaran yang menarik. Yesus singgah, mungkin tidak diduga, untuk suatu kunjungan singkat. Maria menyadari betapa kunjungan Yesus merupakan suatu kehormatan besar bagi mereka. Maka ia memutuskan untuk duduk dan menggunakan kesempatan itu sebaik-baiknya. Ia duduk di kaki Yesus sambil memperhatikan setiap kata-kataNya. Bagaimana dengan Marta?

“Sedang Marta sibuk sekali melayani. Ia mendekati Yesus dan berkata: ‘Tuhan, tidakkah Engkau peduli, bahwa saudaraku membiarkan aku melayani seorang diri? Suruhlah dia membantu aku’” (ayat 40)

Marta sedang “stress”. Bukannya ia santai dan menikmati kehadiran Tuhan, malah ia disibukkan oleh keinginannya yang menggebu-gebu untuk melakukan segala persiapan. Ia berusaha menyediakan makanan yang lezat, bergegas supaya segala sesuatu siap pada waktunya, menjadi nyonya rumah yang baik. Sementara saudara perempuannya duduk di dalam ruangan dan tidak pernah menawarkan bantuan. Setelah kegelisahannya mencapai titik puncak, reaksinya meledak.

  • Ia menganggap Yesus tidak mempedulikannya (“Tuhan, tidakkah Engkau peduli...?”)
  • Ia mencela Maria, karena dianggapnya Maria tidak bertanggung jawab (“... saudaraku membiarkan aku melayani seorang diri...”)
  • Ia berusaha supaya segala sesuatu berjalan sesuai dengan keinginannya (“... Suruhlah dia membantu aku.”)

Bahwa Marta ingin melayani Yesus dengan makanan memang pantas. Sebenarnya, ini suatu hal terpuji. Ia memang seperti itu: aktif, penuh semangat kerja, rajin, penuh perhatian, dan tekun. Tetapi masalah timbul ketika ia berusaha melakukan lebih daripada yang diperlukan. Kemudian suatu pandangan mengkritik dialihkan kepada Maria, karena Maria tidak menggunakan waktunya seperti dia, tergesa-gesa, sibuk, dan cerewet.

“Tetapi Tuhan menjawabnya: ‘Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara, tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil daripadanya’” (Lukas 10:41-42).

Tuhan ‘menganalisis’ stres yang dialami Marta dengan dua kata: “kuatir” dan “menyusahkan diri”. Kuatir berarti ‘sesuatu yang ditarik-tarik ke arah yang berbeda-beda’. Akar kata kerja ini dalam bahasa Yunani berarti ‘memecahkan dalam beberapa bagian.’ Bagian yang terdalam dari hati Marta sedang dikacaubalaukan. Kata “menyusahkan diri” sebenarnya bermakna “gaduh, huru-hara, kekacauan”. Ia gelisah dan hancur hatinya karena pikirannya kacau.

Marta memusatkan pikirannya pada “begitu banyak perkara” – daging, serbet, waktu, roti, dan hal-hal kecil lainnya. Ia tidak dapat lagi memusatkan pikirannya pada perkara yang besar. Satu-satunya hal yang paling penting yang harus ia pilih hilang ditelan kekacaubalauan itu. Dan ingatlah, tidak salah keinginan untuk menyenangkan Tuhan, tapi kemudian, sebagaimana kuatir telah mencuri perspektifnya, Marta tak bisa menentukan mana yang penting.

Lalu, bagaimana mengatasi stres??

  1. Mengalahkan kekuatiran

Percayalah kepada Tuhan dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri.

Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu” (Amsal 3: 5,6).

Tiga kata kerja pertama adalah perintah. Kata-kata ini ditujukan kepada anak-anak Allah, orang-orang Kristen. Kata-kata ini menunjukkan tanggung jawab kita. Kata kerja keempat adalah suatu janji, menyatakan bagian Allah dalam transaksi ini, tanggung jawabNya.

Sandarkan diri secara mutlak kepada Tuhan, yaitu dengan menyerahkan kebutuhan sekarang dan masa yang akan datang kepadaNya. Dapatkan dari padaNya rasa aman dan keselamatan. Lakukanlah ini dengan segenap akal budi, perasaan, dan kehendak. Agar ini mungkin terjadi, jangan mengandalkan diri sendiri pada hal-hal manusiawi yang tidak benar. Sebaliknya sadarilah kehadiran dan perhatianNya dalam setiap keadaan kita. Kemudian (setelah mengendalikan seluruh situasi yang ada) Ia melancarkan dan meluruskan langkah-langkah kita secara sempurna sambil menyingkirkan setiap penghalang di sepanjang jalan.


  1. Membagi Beban Pekerjaan

Sisi lain dari kekuatiran adalah berusaha terlalu banyak melakukan apa-apa sendiri. Musa contohnya. Keluaran 18:13-24 menggambarkan hal tersebut. Musa dikelilingi oleh kebutuhan orang-orang Israel yang silih berganti dari pagi hingga petang. Beban ini disaksikan oleh Yitro, mertua Musa sehingga dia memberi nasihat untuk membagi beban pekerjaannya kepada orang-orang yang cakap, mampu, dan tepat.


  1. Menggantikan Stres dengan Doa

Pengalaman Daud mengingatkan kita untuk berdoa sebagai terapi stres. Ketika pulang dari perjalanan 3 hari yang sangat melelahkan, Daud dan sekelompok pengikutnya mendapati rumah mereka dijarah, istri dan anak-anak mereka ditawan musuh. Lebih buruknya lagi terjadi pemberontakan dimana rakyat menyalahkan Daud, pemimpinnya.

1 Samuel 30:6: ” Dan Daud sangat terjepit, karena rakyat mengatakan hendak melempari dia dengan batu. Seluruh rakyat itu telah pedih hati, masing-masing karena anaknya laki-laki dan perempuan. Tetapi Daud menguatkan kepercayaannya kepada TUHAN, Allahnya.”

Dalam stres dan keputusasaannya, Daud berdoa, menyerahkan beban dari pundaknya kepada Allah.


  1. Memasuki Tempat Perhentian

Lepaskan beban anda isitirahat sejenak dan bersantailah! selama masa-masa ini persilahkan Tuhan masuk alam pikiran Anda dengan sempurnanya, sehingga segala stres digantikan oleh damai dan ketakutan digantikan dengan iman. :)

-diambil dari buku “Stress”, Charles Swindoll, diketik saat saya sedang tidak stres :p-

Senin, 11 Juli 2011

Halo waktuku, kemana dirimu menguap?

Hola, apa kabar blog yang lama banget ga saya sentuh?
hm, terakhir nulis di media publik kayak gini bulan november kemarin.. Bukan karena sibuk ini itu juga, tapi karena sambungan inet yang ga bagus.

Ngomong2 kesibukan, setelah lulus dokter saya menjalani program internship. Ketika baru2 lulus banyak yang nyelametin sekaligus bilang "Welcome to the real life Prima!" Yah, inilah kehidupan dokter umum sesungguhnya yang saya alami selama internship di salah satu RSUD di Jawa Barat. Puji Tuhan, saya dapet RS yang memungkinkan saya untuk pulang pergi ke rumah setiap harinya. di RS ini saya mengalami siklus kerja yang disamakan dengan dokter tetap di sana, mulai dari jadwal jaga dengan sistem shift meliputi kerja IGD dan rawat inap, termasuk jaga malamnya (tapi tidak dengan jaspel, haha..). Dengan demikian, semua hari dihitung hari kerja, dan jadwal libur pun tidak lagi sesuai dengan tanggalan merah kalender *hiks*

Jadwal libur yang tidak mengikuti siklus libur pada umumnya ini, sering banget bikin saya galau.. kok bisa? haha, waktu libur memang cukup memadai, tapi persoalannya adalah pas orang2 libur, saya malah jaga, pas orang2 kerja/sekolah eh saya malah libur.. Liburan sendirian, kadang ga tau mau ngapain, sesekali jalan2 sendirian, tapi lama2 bosan, di rumah aja mati gaya dan berujung pada perenungan yang bisa bikin depresi dan mellow tanpa akhir.. "kesantaian" ini pada mulanya nikmat, namun lama kelamaan bisa jadi penyesalan karena tidak digunakan dengan bijaksana untuk hal-hal yang mendukung tujuan hidup ke depannya.

sekarang, ketika saya melihat lagi hidup saya 8 bulan kemarin di RS, belumlah cukup maksimal apa yang bisa saya kerjakan di waktu2 kosong saya. beruntung, saya masih diberi kesempatan untuk menikmati 4 bulan internship lagi. Semoga saya bisa memberikan yang terbaik dan memanfaatkan waktu2 luang saya selama internship ini sesuai kehendakNya..

"Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati bijaksana" (Mazmur 90:12)