Akhir-akhir ini saya kerap disibukkan oleh beberapa
hal yang sebenarnya dapat disiasati untuk tidak sibuk ketika manajemen waktu dan
diri terkuasai. Hm, dan hari ini saya benar-benar tertegur dari Firman Tuhan
yang saya baca melalui saat teduh.
Terambil dari Yohanes 13:31-35, intinya Tuhan memberikan
perintah untuk saling mengasihi; sama seperti Dia yang telah terlebih dahulu
mengasihi kita. Super jlebb! Sudah sering sih mendengar kata-kata ini, tetapi
entah mengapa saya langsung tertegur, melihat diri saya kembali belakangan ini
yangsepertinya sudah mati rasa dalam mengasihi Allah dan sesama. Tetap saya
melayani pasien2 saya, tetap saya berusaha menjaga hubungan baik dengan
orang-orang di sekitar saya, namun seolah sekedar profesionalitas belaka. Semangat
saya perlahan terkikis, tidak seperti semangat kasih mula-mula ketika saya
mengenal sang Khalik sebagai Tuhan dan juruselamat saya. Yap, kondisi rohani
saya sedang mengalami degradasi kronik progresif!
Beberapa pertanyaan
menjadi bahan refleksi bagi saya. Bagaimana sebenarnya hubungan pribadi saya
dengan sang Khalik? Apakah saya masih menikmati berkomunikasi dengan-Nya?
Apakah saya masih mengasihi Allah dengan sungguh-sungguh? Apakah saya masih
setia terhadap panggilan-Nya untuk menyampaikan kasih-Nya kepada orang-orang di
dekat saya? Apakah saya senantiasa menjadi teladan sekaligus sahabat yang baik
bagi orang-orang di sekitar saya?
Katanya: The height of
our love for God is indicated by the depth of our love for one another (Morley).
Semoga kiranya passion kasih
mula-mula itu timbul lagi. Ya, semangat ketika mengalami kasih pertama kali,
ketika jatuh cinta dan kasih itu meluap-luap, mau melakukan apapun dengan tulus
untuk yang dicintai. Demikian pula lah kasih kepada sang Khalik dan sesama
manusia.
Laguboti, 29 Agustus 2013