Kehilangan itu merugikan! Kalau mau main hitung-hitungan ya jelas rugi. Uang sejumlah itu bisa digunakan untuk hal-hal lain yang bermanfaat dan jauh menyenangkan. Jam tangan kesayangan yang sudah menemani selama hampir 3 tahun tidak bisa lagi saya gunakan untuk menjadi penunjuk waktu, tidak bisa lagi untuk menghitung denyut nadi atau laju napas pasien. Belum lagi kalau diingat-ingat jam tangan itu adalah harta pertama yang saya beli dari hasil kerja saya sendiri untuk pertama kalinya (dulu pernah mencoba untuk mengajar privat, hehe), jadi pastinya punya kenangan tersendiri.
Makin cinta terhadap sesuatu, makin susah melepasnya jika kehilangan! hmm, ini benar adanyaaa.. Nah pas banget saya ingat kisahnya Ayub yang pernah kehilangan ga cuma materi, namun juga orang-orang yang disayang, bahkan kegantengan fisiknya. Ini jauh, jauh lebih menakutkan daripada kehilangan yang saya alami. Dan apa yang justru dikatakan Ayub?
"Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. Tuhan yang memberi, Tuhan yang mengambil, terpujilah nama Tuhan!"
"... Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk?"
Kehilangan juga membuat saya belajar melihat kembali sikap perilaku saya selama ini. Apakah mungkin saya juga terlalu ceroboh dalam menjaga materi tersebut. Wong barang-barang kepunyaan yang seperti itu aja bisa hilang, apalagi orang yang disayangi kelak #eh, jadi curcol :p
Banyak hal yang diuji melalui belajar dari kehilangan, mulai dari sikap hati saya kepada Sang Pemilik Materi sampai kepada perilaku saya dalam menjaga titipan Sang Khalik tersebut. Selamat memperbaiki diri kembali Prima! :)