Selasa, 12 Juli 2011

STRESS!!!!

“Anda akan mematahkan busur bila anda menariknya terus menerus!” –semboyan Yunani-

Terus gimana dong cara mengendurkan senarnya? Aktivitas kian hari terus bertambah, beban studi, kerja, tak jarang pelayanan dan pikiran-pikiran lainnya akan terus ada. Bahkan saat kita berusaha mengurangi kegiatan dan hidup santai, hal-hal lain menuntut kita untuk terus sibuk.

Mari kita melihat cerita Maria dan Marta untuk menemukan suatu contoh sempurna tentang stres. (Lukas 10:38-42)

“Ketika Yesus dan murid-muridNya dalam perjalanan, tibalah Ia di sebuah kampung. Seorang perempuan yang bernama Marta menerima Dia di rumahnya

Perempuan itu mempunyai seorang saudara yang bernama Maria. Maria ini duduk dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan perkataanNya” (ayat 38-39)

Suatu gambaran yang menarik. Yesus singgah, mungkin tidak diduga, untuk suatu kunjungan singkat. Maria menyadari betapa kunjungan Yesus merupakan suatu kehormatan besar bagi mereka. Maka ia memutuskan untuk duduk dan menggunakan kesempatan itu sebaik-baiknya. Ia duduk di kaki Yesus sambil memperhatikan setiap kata-kataNya. Bagaimana dengan Marta?

“Sedang Marta sibuk sekali melayani. Ia mendekati Yesus dan berkata: ‘Tuhan, tidakkah Engkau peduli, bahwa saudaraku membiarkan aku melayani seorang diri? Suruhlah dia membantu aku’” (ayat 40)

Marta sedang “stress”. Bukannya ia santai dan menikmati kehadiran Tuhan, malah ia disibukkan oleh keinginannya yang menggebu-gebu untuk melakukan segala persiapan. Ia berusaha menyediakan makanan yang lezat, bergegas supaya segala sesuatu siap pada waktunya, menjadi nyonya rumah yang baik. Sementara saudara perempuannya duduk di dalam ruangan dan tidak pernah menawarkan bantuan. Setelah kegelisahannya mencapai titik puncak, reaksinya meledak.

  • Ia menganggap Yesus tidak mempedulikannya (“Tuhan, tidakkah Engkau peduli...?”)
  • Ia mencela Maria, karena dianggapnya Maria tidak bertanggung jawab (“... saudaraku membiarkan aku melayani seorang diri...”)
  • Ia berusaha supaya segala sesuatu berjalan sesuai dengan keinginannya (“... Suruhlah dia membantu aku.”)

Bahwa Marta ingin melayani Yesus dengan makanan memang pantas. Sebenarnya, ini suatu hal terpuji. Ia memang seperti itu: aktif, penuh semangat kerja, rajin, penuh perhatian, dan tekun. Tetapi masalah timbul ketika ia berusaha melakukan lebih daripada yang diperlukan. Kemudian suatu pandangan mengkritik dialihkan kepada Maria, karena Maria tidak menggunakan waktunya seperti dia, tergesa-gesa, sibuk, dan cerewet.

“Tetapi Tuhan menjawabnya: ‘Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara, tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil daripadanya’” (Lukas 10:41-42).

Tuhan ‘menganalisis’ stres yang dialami Marta dengan dua kata: “kuatir” dan “menyusahkan diri”. Kuatir berarti ‘sesuatu yang ditarik-tarik ke arah yang berbeda-beda’. Akar kata kerja ini dalam bahasa Yunani berarti ‘memecahkan dalam beberapa bagian.’ Bagian yang terdalam dari hati Marta sedang dikacaubalaukan. Kata “menyusahkan diri” sebenarnya bermakna “gaduh, huru-hara, kekacauan”. Ia gelisah dan hancur hatinya karena pikirannya kacau.

Marta memusatkan pikirannya pada “begitu banyak perkara” – daging, serbet, waktu, roti, dan hal-hal kecil lainnya. Ia tidak dapat lagi memusatkan pikirannya pada perkara yang besar. Satu-satunya hal yang paling penting yang harus ia pilih hilang ditelan kekacaubalauan itu. Dan ingatlah, tidak salah keinginan untuk menyenangkan Tuhan, tapi kemudian, sebagaimana kuatir telah mencuri perspektifnya, Marta tak bisa menentukan mana yang penting.

Lalu, bagaimana mengatasi stres??

  1. Mengalahkan kekuatiran

Percayalah kepada Tuhan dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri.

Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu” (Amsal 3: 5,6).

Tiga kata kerja pertama adalah perintah. Kata-kata ini ditujukan kepada anak-anak Allah, orang-orang Kristen. Kata-kata ini menunjukkan tanggung jawab kita. Kata kerja keempat adalah suatu janji, menyatakan bagian Allah dalam transaksi ini, tanggung jawabNya.

Sandarkan diri secara mutlak kepada Tuhan, yaitu dengan menyerahkan kebutuhan sekarang dan masa yang akan datang kepadaNya. Dapatkan dari padaNya rasa aman dan keselamatan. Lakukanlah ini dengan segenap akal budi, perasaan, dan kehendak. Agar ini mungkin terjadi, jangan mengandalkan diri sendiri pada hal-hal manusiawi yang tidak benar. Sebaliknya sadarilah kehadiran dan perhatianNya dalam setiap keadaan kita. Kemudian (setelah mengendalikan seluruh situasi yang ada) Ia melancarkan dan meluruskan langkah-langkah kita secara sempurna sambil menyingkirkan setiap penghalang di sepanjang jalan.


  1. Membagi Beban Pekerjaan

Sisi lain dari kekuatiran adalah berusaha terlalu banyak melakukan apa-apa sendiri. Musa contohnya. Keluaran 18:13-24 menggambarkan hal tersebut. Musa dikelilingi oleh kebutuhan orang-orang Israel yang silih berganti dari pagi hingga petang. Beban ini disaksikan oleh Yitro, mertua Musa sehingga dia memberi nasihat untuk membagi beban pekerjaannya kepada orang-orang yang cakap, mampu, dan tepat.


  1. Menggantikan Stres dengan Doa

Pengalaman Daud mengingatkan kita untuk berdoa sebagai terapi stres. Ketika pulang dari perjalanan 3 hari yang sangat melelahkan, Daud dan sekelompok pengikutnya mendapati rumah mereka dijarah, istri dan anak-anak mereka ditawan musuh. Lebih buruknya lagi terjadi pemberontakan dimana rakyat menyalahkan Daud, pemimpinnya.

1 Samuel 30:6: ” Dan Daud sangat terjepit, karena rakyat mengatakan hendak melempari dia dengan batu. Seluruh rakyat itu telah pedih hati, masing-masing karena anaknya laki-laki dan perempuan. Tetapi Daud menguatkan kepercayaannya kepada TUHAN, Allahnya.”

Dalam stres dan keputusasaannya, Daud berdoa, menyerahkan beban dari pundaknya kepada Allah.


  1. Memasuki Tempat Perhentian

Lepaskan beban anda isitirahat sejenak dan bersantailah! selama masa-masa ini persilahkan Tuhan masuk alam pikiran Anda dengan sempurnanya, sehingga segala stres digantikan oleh damai dan ketakutan digantikan dengan iman. :)

-diambil dari buku “Stress”, Charles Swindoll, diketik saat saya sedang tidak stres :p-

1 komentar:

  1. kisah yg menarik, kadang suatu pekerjaan yg berat apakah harus dilakukan sendiri begitu juga dengan perjalanan hidup, apakah harus di lalui sendiri. Melayani Tuhan tapi dengan sendiri, apakah tidak ada pasangan untuk membagi dalam suka dan duka? terima kasih renungan yg sangat baik.

    BalasHapus