Hampir semua orang mengenal patung Liberty. Patung yang berdiri menjulang tinggi yang ada di Amerika Serikat. Patung ini bukanlah sembarang patung yang hanya dijadikan pajangan saja. Patung Liberty memiliki arti tersendiri bagi warga Amerika Serikat. Bagi mereka, patung ini merupakan simbol kemerdekaan, tanda bahwa mereka telah bebas dari segala penjajahan.
Pada alas patung Liberty ada sebuah kalimat yang dicetuskan oleh Emma Lazarus yang sangat menyentuh, bunyinya seperti ini: “Datanglah kepadaku hai orang-orang yang letih dan miskin, rakyat merindukan udara kebebasan dari orang-orang yang terbuang dari masyarakat. Kirimlah kepadaku para tunawisma dan orang-orang terlantar; Aku telah meninggalkan oborku di sisi gerbang emas!”
Kata-kata yang tertulis di benda tak bernyawa tersebut begitu bersejarah sehingga generasi demi generasi di bangsa itu tidak pernah melupakannya. Namun ada satu monumen lain yang begitu menjulang tinggi dan menawarkan kemerdekaan rohani bagi orang-orang yang diperbudak dan dibelenggu oleh dosa. Apakah itu? Monumen itu bernama salib Yesus.
Salib tersebut awalnya hanyalah sebuah benda yang tidak dianggap oleh siapapun karena merupakan simbol dari kehinaan. Namun, ketika pribadi yang disebut Yesus, Anak Allah berada di salib untuk menebus dosa manusia; benda yang malambangkan kebinasaan itu berubah makna menjadi lambang kemenangan atas maut. Dari salib itu terdengar seruan: “Ya Bapa ampunilah mereka” dan “Sudah selesai” (Yohanes 19:30). Keselamatan dan kemerdekaan atas dosa menjadi milik kita ketika kita menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat.
Kematian Yesus telah mengubah masa depan hidup manusia yang tadinya berakhir dalam kebinasaan menjadi kehidupan kekal bersama dengan Allah. Lantas mengapa Allah sampai merencanakan anak-Nya untuk berada di salib yang hina tersebut?
Pada mulanya Allah menciptakan manusia sedemikian rupa untuk suatu rencana indah. Allah begitu mengasihi manusia dan ingin agar manusia memiliki damai dan kehidupan kekal. Namun apa sebab banyak orang masih sulit menemukan kebahagiaan hidup?
DOSA! Semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah. (Roma 3:23). Dosa mengakibatkan maut yang berarti keterpisahan dengan Allah (Roma 6:23). Hal ini merupakan akibat dari pilihan manusia yang tidak taat terhadap Allah. Bagi kita “dosa” adalah perkataan, kegiatan, atau sikap hati yang bertentangan dengan sifat Allah. Tetapi menurut Paulus, istilah “dosa” tidak hanya menunjuk pada kegiatan-kegiatan tertentu. Dalam Roma 6:1-14, “dosa” adalah suatu kuasa, sejajar dengan kuasa maut.
Aneka jenis jalan dan usaha ditempuh manusia untuk menghindari maut tersebut. Berbagai cara melalui moral, agama, kebaikan, filsafat dilakukan tanpa sedikitpun hasil. Amsal 14:12 mengatakan “Ada jalan yang disangka lurus, tetapi ujungnya menuju maut.” Berbagai seruan manusia (take me in) kepada sang Pencipta sia-sia. Allah tidaklah mendengarnya karena masih ada dosa (Yesaya 59:2).
Allahlah yang mencari manusia! “Dimanakah engkau?” Allah bertanya (Kejadian 3:9). Allah memulai pencarian-Nya untuk menebus hati manusia. Sebuah pencarian untuk mengikuti anak-anak-Nya sampai anak-anak-Nya mengikuti-Nya. Allah benar-benar menginginkan anak-anak-Nya pulang bersama-Nya. Dan untuk itu, Ia memberi manusia sebuah hadiah.
Allah menjadi manusia, itulah hadiah bagi semua orang. Keilahian datang. Surga terbuka dan menempatkan miliknya yang paling berharga dalam rahim seorang wanita. Yang Mahakuasa, dalam sekejap, menjadi darah dan daging. Dia yang lebih besar dari alam semesta menjadi embrio yang sangat kecil. Dan Dia yang menopang dunia dengan satu kata memilih bergantung pada makanan seorang gadis muda.
Allah memilih untuk menyatakan diri-Nya melalui tubuh seorang manusia. Yesus Kristus nama-Nya! Lidah yang membangkitkan orang mati adalah lidah seorang manusia. Tangan yang menyentuh orang kusta memiliki kotoran di balik kuku-kukunya. Kaki yang diatasnya seorang wanita menangis adalah kaki yang kapalan dan berdebu. Ia tahu bahwa kaki yang akan melangkah keluar dari bayangan kedamaian toko kayu Yusuf tidak akan beristirahat sampai kaki-kaki itu ditusuk dan dipakukan ke sebuah kayu salib Roma. Hati-Nya mendengar jeritan tak berdaya kaum papa, tuduhan-tuduhan yang pahit dari manusia yang terabaikan, keputusasaan yang selalu membayangi mereka yang berusaha menyelamatkan diri mereka sendiri.
Keilahian-Nya melihat wajah-wajah. Wajah-wajah yang berkerut. Wajah-wajah yang menangis. Wajah-wajah yang tersembunyi di balik tirai. Wajah-wajah yang terhalang rasa takut. Wajah yang bersungguh-sungguh mencari. Wajah-wajah kosong yang menyiratkan kebosanan. Mulai dari wajah Adam sampai wajah bayi yang lahir dari suatu tempat di dunia ini pada saat tulisan ini sedang dibaca. Dia melihat mereka semua.
Kristus datang ke dunia untuk satu alasan: memberikan hidupnya sebagai tebusan untuk manusia. Ia mengorbankan diri-Nya untuk memberi manusia kesempatan kedua. Ia naik ke atas kayu salib dimana keputusasaan manusia yang tertinggi bertemu dengan anugerah Allah yang tidak terbelokkan oleh apapun. Ia menjadi satu-satunya jawaban bagi masalah terbesar manusia yakni keselamatan. Dia mati di salib dan bangkit dari kubur, membayar hukuman atas dosa-dosa kita dan menjembatani jurang pemisah antara Allah dan manusia (1 Timotius 2:5; 1 Petrus 3:18).
Kuburan yang kosong adalah salah satu bukti bahwa Kristus telah bangkit. Kuasa maut tidak berdaya untuk membelenggunya. Hal ini mempertegas bahwa Yesuslah Tuhan yang sungguh berkuasa atas segala sesuatu baik atas maut sekalipun. (1 Korintus 15:1-7)
***
Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman lagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus (Roma 8:1)
Sebab Aku akan menaruh belas kasihan terhadap kesalahan mereka dan tidak lagi mengingat dosa-dosa mereka. (Ibrani 8:12)
Bagi mereka yang hidup dalam Kristus, mempercayai Dia sebagai Tuhan dan juruselamat, janji-janji Tuhan tidak hanya merupakan suatu sumber sukacita. Janji-janji ini juga merupakan dasar-dasar keteguhan hati yang sejati. Manusia mendapat jaminan bahwa dosa-dosanya akan dihapuskan, disembunyikan, dan ditutupi oleh pengorbanan Yesus. Manusia menjadi dekat dengan Allah (Efesus 2:13), dilepaskan dari kuasa kegelapan dan menjadi anggota kerajaan-Nya (Kolose 1:13), dibenarkan (Roma 5:1), disempurnakan (Ibrani 10:14), dan masih banyak lagi semua berkat rohani yang ada. Ini adalah pemberian yang diberikan kepada pendosa yang paling hina di bumi ini. Siapa yang dapat memberikan tawaran seperti ini jika bukan Allah? Karena dari kepenuhan-Nya kita semua telah menerima anugerah demi anugerah. (Yohanes 1:16)
Take Me in! Undang Aku masuk dalam hatimu, begitulah kira-kira seruan Kristus kepada manusia. Mengenal Allah berarti menerima Dia masuk bertahta dalam hati kita. Ia memberikan semuanya dan manusia memberi-Nya semua. Sederhana dan mutlak. Ia jelas dalam apa yang diminta-Nya dan jelas dalam apa yang ditawarkan-Nya. Pilihan terletak di tangan manusia. Tidakkah luar biasa bahwa Allah membiarkan manusia membuat suatu pilihan? Banyak hal dalam kehidupan ini yang tidak dapat dipilih. Manusia tidak dapat memilih cuaca, tidak dapat memilih dilahirkan dengan alis tebal atau hidung besar. Namun manusia dapat memilih dimana akan melewatkan kekekalan. Pilihan penting dan Allah menyerahkannya pada manusia. Jika kita telah mendapatkan-Nya masuk, marilah kita bersyukur kepada-Nya sekali lagi. Dan jika kita belum pernah mendapatkan-Nya, mari undang Dia masuk hati kita. Dapatkanlah anugerah istimewa tersebut sekarang karena ini adalah hadiah seumur hidup
“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” (Yohanes 3:16)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar