Namun, saya merasa: egois sekali saya! Sudah dapat banyak tentang keselamatan, sudah mengalami pertumbuhan rohani, sudah ikut serta dalam pelayanan kampus, bahkan sudah lulus menjadi dokter, tapi saya tidak melayani keluarga saya. Akhir-akhir ini saya mendapat teguran dari Tuhan lewat sharing teman-teman saya yang ingin menghabiskan waktu liburan ini bersama keluarganya sebelum pergi ke tempat internship. "ahh, ada baiknya akupun demikian, berada di rumah, lebih dekat dengan keluarga", pikir saya saat itu. Saya ingin memakai waktu liburan sebulan ini untuk lebih dekat dengan keluarga, melayani mereka, dan terlebih saya ingin sekali mereka juga mengalami pertumbuhan rohani dan ikut terlibat dalam pelayanan. ~Hohoho, harapan saya terhadap keluarga yang ideal tinggi sekali ya~
Teringat, dulu ketika saya masih jadi mahasiswa tingkat 1, saya pernah mencoba menanyakan tentang kepastian keselamatan keluarga saya. Maklumlah, waktu itu saya masih euforia membagikan berita tentang keselamatan. Hmm.. saya bersukacita, karena mereka telah mengerti tentang hal tersebut. Sukacita saya bertambah juga ketika adik saya mau dibina dalam kelompok kecil dikampusnya. Namun, saya merasa gagal! Saya membagikan hal tersebut, tetapi kurang membagikan waktu, pikiran, dan tenaga saya untuk mereka. Saya masih egois, saya terlalu sibuk terhadap diri saya sendiri sampai mereka berkata saya terlalu rohani, tidak sesuai apa yang dikatakan dan dikerjakan. Saya mencoba lebih memperhatikan keluarga dengan mengusahakan menelepon atau menghubungi mereka setiap hari (ataupun dihubungi, yang jelas komunikasi tetap ada), mendoakan mereka setiap hari saat saya di kos. Awalnya saya bisa melakukannya, tapi lama kelamaan saya capek dan jenuh, saya merasa ga menikmati lagi apa yang saya lakukan. Rupanya fokus saya yang salah! Saya terfokus pada apa yang saya punya untuk memperhatikan keluarga saya. Lagi-lagi saya kurang menganggap Tuhan lah yang sesungguhnya berperan dalam keluarga saya. Saya mau keluarga saya begini, saya mau begitu, tapi pada akhirnya akan jatuh capek dan kurang mendapat sukacita karena bukan Tuhan yang diandalkan atas segalanya.
Saya mohon ampun sama Tuhan karena saya terlalu PD dengan diri saya sendiri saja dan saya meminta Tuhan untuk kembali duduk di atas takhta hati saya. Saat ini saya terus berdoa agar liburan ini menjadi sarana yang efektif untuk dapat kembali memperhatikan keluarga saya, melayani mereka. Saya berharap ini ga cuma letupan sesaat, tapi keberadaan saya di rumah sungguh-sungguh bisa membawa perubahan.
Liburan ini, saya mulai banyak ngobrol dengan papa dan mama saya. Membicarakan banyak hal. Biasanya saya suka terpancing untuk adu pendapat kalau ngomong sama mereka. Namun saya belajar untuk bisa mengendalikan diri, untuk bisa menerima pendapat orang lain (ga nyolot lah istilahnya, hehe), untuk mau dikritik, dan untuk tidak cepat putus asa. Lama kelamaan saya mengerti banyak dan merasakan berkat yang begitu berlimpah dalam hidup saya. Saya yang bisa sekolah sampai lulus dokter ini adalah berkat dari Tuhan. Dari segi finansial, kalaudipikir-pikir gaji orang tua saya yang cuma guru SMA dan PNS mungkin ga cukup buat membiayai kehidupan saya dan 2 orang adik2 saya, tapi Tuhan ngasih hikmat buat cermat mengatur uang sama mama dan papa saya. Saya jadi merasakan juga perjuangan mereka mendidik saya dan adik-adik saya. Berusaha mencukupkan kebutuhan fisik kami, namun tidak melupakan kebutuhan rohani kami. Dari saya kecil, mereka rajin mengantarkan dan menjemput saya dan adik-adik saya ke gereja untuk sekolah minggu, latihan-latihan liturgi atau nyanyi. Waktu kecil, setiap malam kami selalu diajarin berdoa. Ada satu doa dalam bahasa batak yang sering diajari:
"met met au on bahen ias rohangkon sasada Ho Jesus donganku tongtong. Amen."
(artinya: kecil aku Tuhan, bersihkanlah hatiku, satu-satunya engkau Yesus, temanku selamanya. Amin)
Saya mengerti bagaimana jatuh bangun mereka akibat perjuangan yang berat sering kali menggeser Tuhan sebagai prioritas yang utama. Tapi di sinilah peranan kami semua sekarang. Saling mengingatkan, membangun, dan menjaga satu sama lain. Untuk itu semua, kami harus membangun kesehatian dahulu satu sama lain.
Sebagai seorang yg dilahirkan dengan darah batak bagaimana kamu memandang Adat batak sebagai tanda hormat kepada orangtua? ketika ada aliran-aliran kharismatik, GBI yg sangat mengharamkan adat istiadat muncul dengan ayat-ayat yg diterjemahkan Tuhan benci dengan adat istiadat sampai pendeta Kharismatik jika disapa horas saja tidak membalas. Ulos dan adat istiadat sangat di benci Tuhan menurut GBI, bagaimana pandangan kamu sebagai boru batak yg lumayan mahir bahasa batak toba? alasan mengharamkan ulos dan adat istiadat batak karena dulu ulos dan adat istiadat dipakai untuk menyembah roh leluhur? bahasa batak harusnya juga diharamkan golongan kharismatik GBI. Seingat saya bahasa melayu induk bahasa melayu juga sebelum agama masuk ke Indonesia juga dipakai untuk menghormati leluhur. Juga bahasa inggris ternyata juga dulu dipakai orang eropa untuk menyembah berhala. Bagaimana pandangan kamu tentang adat istiadat sebagai seorang boru batak? Tentang baptis selam yg di ajarkan kharismatik GBI ternyata tidak ada di Alkitab, Tuhan Yesus ketika di baptis oleh Yohanes pembaptis saat itu sedang berdoa, posisi Tuhan Yesus ketika berdoa adalah berlutut. Tidak ada tertulis di selamkan ketika di baptis. Tapi di beberapa aliran diajarkan di baptis selam apakah ini versi ajaran manusia yg di karang-karang. Saya ingin bertanya, apakah adat istiadat batak bisa sejalan dengan Kristen menurut kamu?
BalasHapus