Selasa, 17 Agustus 2010

Oleh-oleh dari Desa Pengalusan..

Tanggal 3-9 agustus kemarin saya mengikuti stop out di purwekerto, pengalusan tepatnya..
sejujurnya saya siap tidak siap mengikuti stop out kali ini.. beberapa pembinaan stop out yang dilakukan tidak saya ikuti karena hal-hal yang ga bisa ditinggalkan seperti seminar (h min 2 keberangkatan stop out). Saya memohon kpd Tuhan supaya saya bisa tetap menyiapkan diri dengan waktu yang sempit ini. Tuhan pun menjawab doa saya.. buktinya saya benar2 menikmati momen2 di stop out ini dan itulah yang akan saya bagikan..

Saya sampai di desa pengalusan yang terletak di puncak gunung sesuatu di daerah purwekerto. Namanya juga puncak, tempatnya pasti dingin dan jalannya menanjak sekalee.. Di desa ini, hampir semua penduduknya beragama Kristen dan di sana berdiri sebuah gereja (GKJ pengalusan). Penduduk di sana rata-rata bekerja sebagai petani/peladang. Hasil ladang berupa daun kucai (sejenis daun bawang dan dipakai untuk sambal tempe mendoan) yang dijual tidak seberapa kepada tengkulak. Kabar yang beredar rata2 pendapatan mereka 300rb per tahun. Wow, saya lantas berpikir bagaimana mungkin dengan pendapatan demikian mereka bisa hidup dan menghidupi keluarga mereka? Kasih Tuhan pastilah yang tetap memelihara mereka sampai detik ini.

Saya tinggal di rumah pak pendeta Bagus dan ibu Endah serta 1 orang anak mereka Gracia (3 tahun). saya kagum dengan keluarga ini. Di sini saya melihat contoh nyata misionaris yang bertugas di daerah terpencil. Pak bagus ini asalnya tinggal di Solo dan awalnya istrinya tinggal di Jakarta. Mereka sudah 3 tahun menetap dengan sukacita dan bukan tanpa perjuangan di desa terpencil ini. Pak bagus menceritakan bagaimana awalnya mereka bergumul untuk meninggalkan zona nyaman mereka, bagaimana mereka membangun rumah yang mereka tinggali sekarang, bagaimana menyesuaikan diri dengan orang-orang yang berbeda kebiasaan dengan mereka, dan bagaimana mereka juga berjuang supaya bisa melayani dan membawa teladan yang baik untuk masyarakat sekitar. Saya semakin dikuatkan untuk bisa melakukan hal yang sama saat jadi dokter nanti. sebentar lagi saya akan pergi internship selama setahun di tempat yang ga tau dimana. saya berharap bisa menjadi dokter yang menangani pasien secara holistik (hhohoho, IKK sekaleee), ga cuma mengobati fisik pasien, tapi seperti apa yang Tuhan Yesus sudah kerjakan di dunia (teaching, preaching, healing).

hari selanjutnya, dijalani dengan pengobatan.. Hohoho, di sini saya dapet kesempatan untuk ikut serta memeriksa beberapa pasien. Di sini ada berbagai macam tantangannya lagi (hohoho, ga bisa disebutin satu2 dan awalnya bikin saya ciut). Nah di sini saya mulai belajar sama yang namanya peperangan rohani. Benar2 diingetin pentingnya berdoa dan tetap bergantung sama Tuhan dan saya merasakan bagaimana besarnya kuasa doa itu.

Berkat2 lain nya yang saya dapet dari stop out adalah semakin menyadari kalau sebagai orang kristen ga cukup mengalami kasih Tuhan untuk diri sendiri saja, tapi membagikan kasih itu sama orang lain juga. Bagi yang belum pernah mencoba melakukannya, ayo lakukan dari sekarang! bagi yang sudah atau sering, jangan pernah lelah menjadi saluran berkat bagi orang lain, terlebih kepada orang yang belum mengenal Tuhan.

Pengalaman saya dalam membagikan kasih Tuhan itu salah satunya adalah ketika saya memeriksa saudara sebangsa saya, seorang bapak, sebut saja pak X. Pak X, 40 tahun datang dengan keluhan utama benjolan pada lehernya sejak 1 tahun terakhir. Benjolan tersebut ikut bergerak saat menelan dan hasil pemeriksaan mengarah ke keganasan. Saya menyarankan bapak tersebut untuk diperiksa lebih lanjut ke rumah sakit. Ternyata ga semudah yang saya pikirkan. Bapak tersebut ternyata adalah tulang punggung keluarga, bekerja hanya sebagai peladang, pendapatan tak menentu, anaknya banyak dan masih kecil-kecil, kalo harus memeriksakan diri ke kota berarti harus meninggalkan keluarga. Bapak tersebut seakan kehilangan harapan untuk sembuh. Saya bilang ke bapak itu kalo harapan sesungguhnya masih ada dalam Tuhan. Bapak tersebut lantas saya doakan tak lupa disarankan untuk mengurus jaminan kesehatan berupa jamkesmas atau gakin.

Kedengerannya berat bgt dehh.. harus menyampaikan kabar sukacita, harus meninggallkan zona nyaman, harus jadi berkat, tapi itu tantangannya! Ini bukan pekerjaan kita sendiri. "Dengan diri kami sendiri kami tidak sanggup untuk memperhitungkan sesuatu seolah-olah pekerjaan kami sendiri; tidak, kesanggupan kami adalah pekerjaan Allah. (2 Kor 3:5)". Mari menjadi dokter-dokter yang bisa mengerjakan kerinduanNya bagi semua manusia sambil tetap memperlengkapi diri dengan menjaga integritas di hadapan Tuhan..
soli deo Gloria!



Tidak ada komentar:

Posting Komentar