Bahkan tanpa bukti lain sama sekali, ibu jari saja sudah cukup untuk meyakinkan saya akan keberadaan Tuhan.
--Isaac Newton
Manusia mencari-cari -hutan belantara Amazon, air terjun Niagara, sungai Nil- semua keajaiban alam yang dapat memuaskannya akan keagungan dan kebesaran Allah. Namun Isaac Newton mendapatkannya tanpa melangkah satu meter pun. Manusia. Manusia merupakan keajaiban Allah kita yang luar biasa. Gerakan ibu jari saja sudah cukup untuk membuktikan bahwa kehebatanNya. Begitu rumit gerakan itu diciptakanNya agar manusia dapat menciptakan keindahan –menekan tuts piano, memegang pulpen untuk menulis sebuah puisi, melukis- agar manusia tersebut dapat merasakan kebesaranNya yang lain.
Ibu jari hanyalah bagian kecil dari tubuh manusia yang merupakan gudang rahasia dengan pesona yang tiada habisnya. Dan hal inilah yang dibahas oleh dr. Paul Brand dan Philip Yancey dalam buku Diciptakan dengan Dahsyat dan Ajaib (terjemahan bahasa Indonesia dari Fearfully and Wonderfully Made). Mereka dapat mengupas dengan baik pernyataan-pernyataan abadi Tuhan dalam ciptaanNya, tubuh manusia. Tidak hanya itu, mereka juga mengungkap pemahaman yang menarik mengenai Tubuh Kristus dengan membandingkannya dengan tubuh manusia.
Diawali dengan bagian Sel, dr Paul Brand dan Philip Yancey membahas mengenai kerja Tuhan yang tak terbayangkan, menciptakan sel-sel tubuh manusia yang khas. Manusia pada awalnya hanya merupakan satu sel –zigot- yang akhirnya membelah terus-menerus dan berdiferensiasi untuk mencapai karakter akhir sel-sel yang unik. Sel-sel tersebut mempunyai kerjanya masing-masing dan mempunyai satu tujuan: menunjang kelangsungan hidup sang manusia. Setiap sel berbeda. Sel saraf dengan bentuk bercabang dan panjang mempunyai kecanggihan bagai kabel yang dapat menyalurkan pesan dari satu bagian tubuh ke yang lain. Sel otot yang mempunyai kemampuan berkontraksi, membantu jari-jari saya untuk mengetik dan mata saya untuk berkedip. Fibrosit yang terlihat sederhana namun mempunyai peranan untuk mengisi setiap kekosongan.
Tubuh memiliki keragaman sel yang menakjubkan. Kelihatannya mereka bekerja sendiri-sendiri namun apa yang membuat mereka dapat hidup berdampingan dalam satu tubuh manusia dan menunjang kehidupannya? Jawabannya adalah identitas. Setiap sel mempunyai identitas yang sama yaitu kromosom yang tersimpan dengan baik dalam inti setiap sel. Kromosom mengandung DNA yang mengandung gen yang mengkode sifat-sifat manusia -kulit putih atau hitam, mata sipit atau besar, rambut keriting atau lurus- membuat manusia yang satu berbeda dengan yang lain.
Tubuh Kristus, seperti tubuh kita, terdiri dari sel-sel individual yang saling berbeda dan terjalin menjadi satu untuk membentuk satu Tubuh. Perbedaan antara individu sengaja diciptakanNya untuk saling mendukung satu sama lain. Sama seperti setiap sel sama berharganya bagi manusia, begitu juga setiap anggota Tubuh Kristus sama berharganya bagi Kristus. Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Korintus yang pertama berpendapat ”Allah telah menyusun bentuk tubuh kira begitu rupa sehingga kepada anggota-anggota yang tidak mulia diberikan penghormatan khusus, supaya jangan terjadi perpecahan dalam tubuh, tetapi supaya anggota-anggota yang berbeda itu saling memperhatikan. Karena itu jika satu anggota menderita semua anggota turut menderita; jika satu anggota dihormati, semua anggota turut bersukacita.”
Jelas bahwa Kristus memilih setiap anggota untuk memberi sumbangan yang unik bagi TubuhNya. Tak ada gunanya meremehkan anggota lain, karena bila ia tidak bekerja, seluruh TubuhNya menderita. Kristus menginginkan setiap anggota yang memiliki identitas yang sama –DNA Kristus- bergandeng tangan, bekerja sama untuk kemuliaan Allah. Tubuh Kristus berbeda dengan dunia, karena gennya merupakan gen terbaik, ”mengkodekan” sifat-sifatNya.
Pada bagian lain buku ini, dibahas pula mengenai kulit. Bagian terluas dari tubuh manusia ini terlihat sangat sederhana: hamparan berwarna membungkus tubuh manusia. Sadarkah kita bahwa kulitlah yang membuat kita dapat mengenali seseorang? Kulitlah yang membuat kita mengagumi ketampanan atau kecantikan seseorang. Kulitlah yang yang mempermudah agen-agen penyelidikan mengenali seorang penjahat-melalui sidik jarinya. Kulit merupakan tanda pengenal tubuh yang kasat mata. Yang dapat menentukan first impression (woy bingung nih, boleh pake bahasa beginian ga???!)seseorang.
Pertanyaaan selanjutnya, apakah kita sudah menjadi Kulit yang baik bagi Tubuh Kristus? Setelah mempunyai identitas DNA-Nya, apakah orang mengenali kita sebagai TubuhNya? Saat dunia bertemu dengan Tubuh Kristus bagaimanakah pendapat mereka? Apakah mereka melihat ”kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemah-lembutan, dan penguasaan diri” (Galatia 5:22)? Ataukah hanya segala sifat lama kita yang masih mereka temukan? Hidup bagi Kristus adalah hidup yang merefleksikan Dia. Kristus telah turun ke dunia memberi teladan hidup yang harusnya Tubuh Kristus lakukan. Bercerminlah dengan cermin rohani agar kita dapat mengenali diri kita sendiri, dan percantiklah diri dengan Firman Tuhan agar dapat berkenan menjadi KulitNya.
Hal-hal tersebut merupakan sebagian kecil yang diungkap dalam buku ini. Semuanya menarik dan mencengangkan, patut untuk direnungkan oleh setiap orang.
hallo, permisi tanya, buku fearfully and wonderfully made itu terbitan siapa ya?
BalasHapussaya coba cari susahnya ...
haloo ASK Raymond, aku juga lupa terbitan mana, udah 1 tahun yang lalu belinya di toko buku kharisma cibubur junction, hehe.. coba deh cari di situ :)
Hapus