Senin, 29 April 2013

Belajar dari Kehilangan

Akhir-akhir ini saya banyak sekali merasakan kehilangan materi. Misalnya, saat saya dikatakan telat check in saat akan berangkat ke Medan, menggunakan sebuah maskapai penerbangan berlambang singa. Saat itu saya terpaksa mereschedule ulang waktu keberangkatan dan mesti membayar biaya tambahan sekitar 2 kali lipat harga tiket awal. Kehilangan dilanjutkan dengan raibnya jam tangan Alba kesayangan saya, di mana saya benar-benar lupa kapan dan dimana saya terakhir kali meletakkan jam tangan tersebut. Dan yang baru saja terjadi, sejumlah uang yang saya bawa saat makan malam di sebuah warung makan dekat tempat saya berkerja terjatuh entah dimana. :(

Kehilangan itu merugikan! Kalau mau main hitung-hitungan ya jelas rugi. Uang sejumlah itu bisa digunakan untuk hal-hal lain yang bermanfaat dan jauh menyenangkan. Jam tangan kesayangan yang sudah menemani selama hampir 3 tahun tidak bisa lagi saya gunakan untuk menjadi penunjuk waktu, tidak bisa lagi untuk menghitung denyut nadi atau laju napas pasien. Belum lagi kalau diingat-ingat jam tangan itu adalah harta pertama yang saya beli dari hasil kerja saya sendiri untuk pertama kalinya (dulu pernah mencoba untuk mengajar privat, hehe), jadi pastinya punya kenangan tersendiri.

Makin cinta terhadap sesuatu, makin susah melepasnya jika kehilangan! hmm, ini benar adanyaaa.. Nah pas banget saya ingat kisahnya Ayub yang pernah kehilangan ga cuma materi, namun juga orang-orang yang disayang, bahkan kegantengan fisiknya. Ini jauh, jauh lebih menakutkan daripada kehilangan yang saya alami. Dan apa yang justru dikatakan Ayub?


"Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. Tuhan yang memberi, Tuhan yang mengambil, terpujilah nama Tuhan!"


"... Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk?"

Kehilangan juga membuat saya belajar melihat kembali sikap perilaku saya selama ini. Apakah mungkin saya juga terlalu ceroboh dalam menjaga materi tersebut. Wong barang-barang kepunyaan yang seperti itu aja bisa hilang, apalagi orang yang disayangi kelak #eh, jadi curcol :p

Banyak hal yang diuji melalui belajar dari kehilangan, mulai dari sikap hati saya kepada Sang Pemilik Materi sampai kepada perilaku saya dalam menjaga titipan Sang Khalik tersebut. Selamat memperbaiki diri kembali Prima! :)


1 komentar:

  1. @Prima Heptayana payung hilang mungkin orang yg ngambil lagi membutuhkan, kan sayang bisa beli lagi. kalau semakin cinta untuk apa melepaskannya, kalau cinta ya diperjuangkan untuk terus hidup bersama. mungkin itu sih menurutku.

    BalasHapus